Di Antara Reformasi Pendidikan dan Tuduhan Korupsi: Pro-Kontra Vonis Nadiem Makarim

Politik 17 May 2026 10:09 4 min read 166 views By JIM + AI

Share berita ini

Di Antara Reformasi Pendidikan dan Tuduhan Korupsi: Pro-Kontra Vonis Nadiem Makarim
Di Antara Reformasi Pendidikan dan Tuduhan Korupsi: Pro-Kontra Vonis Nadiem Makarim

Di Antara Reformasi Pendidikan dan Tuduhan Korupsi: Pro-Kontra Vonis Nadiem Makarim 

 

Nadiem Makarim kembali menjadi pusat perhatian nasional. Sosok yang dulu dielu-elukan sebagai simbol modernisasi pendidikan kini menghadapi tuntutan berat dalam kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook senilai triliunan rupiah.

 

Jaksa menuntut Nadiem dengan hukuman 18 tahun penjara, denda Rp1 miliar, serta kewajiban membayar uang pengganti hingga Rp5,6 triliun dalam perkara pengadaan Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) di lingkungan Kemendikbudristek periode 2020–2022.

 

Kasus ini tidak sekadar perkara hukum. Ia telah berkembang menjadi pertarungan opini publik: antara mereka yang melihat Nadiem sebagai simbol perubahan yang “dikorbankan”, dan pihak yang menilai kasus ini sebagai contoh nyata buruknya tata kelola proyek digitalisasi pendidikan.

 

Proyek Digitalisasi yang Berubah Menjadi Skandal

 

Program pengadaan Chromebook awalnya diluncurkan saat pandemi COVID-19 melanda Indonesia. Pemerintah ketika itu berupaya mempercepat digitalisasi sekolah dengan mendistribusikan lebih dari satu juta perangkat ke berbagai daerah.

 

Namun penyidik Kejaksaan Agung menemukan dugaan rekayasa spesifikasi proyek yang dinilai menguntungkan pihak tertentu, termasuk penggunaan sistem ChromeOS yang disebut dipaksakan meski hasil uji sebelumnya dianggap kurang cocok untuk daerah dengan akses internet terbatas..

 

Majelis hakim dalam perkara terdakwa lain, termasuk mantan konsultan Kemendikbud Ibrahim Arief alias Ibam, menyebut proyek tersebut telah menyebabkan kerugian negara lebih dari Rp5,2 triliun.

 

Nama-nama perusahaan teknologi global ikut disebut dalam persidangan sebagai pihak yang memperoleh keuntungan dari rangkaian proyek tersebut. 

 

Gelombang Dukungan untuk Nadiem

 

Di tengah kerasnya tuntutan jaksa, gelombang dukungan terhadap Nadiem muncul dari berbagai kalangan, terutama komunitas pendidikan, startup, hingga figur publik.

 

Sejumlah artis dan tokoh muda seperti Dian Sastrowardoyo, Maudy Ayunda, dan Cinta Laura menyampaikan kegelisahan mereka terhadap tuntutan yang dianggap terlalu berat.

 

Di media sosial, muncul narasi bahwa Nadiem sedang “dihukum karena mencoba mengubah sistem.” Pendukungnya menilai proyek digitalisasi memang memiliki kelemahan teknis, tetapi tidak otomatis berarti korupsi pribadi.

 

Mereka juga menyoroti fakta bahwa Nadiem berkali-kali membantah menerima keuntungan pribadi. Dalam pembelaannya, ia menyebut keputusan teknis berada di tangan pejabat dan tim pengadaan kementerian.

 

Sebagian kalangan startup bahkan khawatir kasus ini menciptakan ketakutan baru bagi profesional swasta yang masuk ke pemerintahan. Ada kekhawatiran bahwa inovasi birokrasi akan mandek karena pejabat takut mengambil keputusan besar.

 

Kritik Keras: “Reformasi Tidak Bisa Menjadi Alasan”

 

Di sisi lain, kritik terhadap Nadiem juga sangat kuat.

 

Aktivis antikorupsi menilai proyek Chromebook sejak awal penuh kejanggalan. Indonesia Corruption Watch sebelumnya menyoroti bahwa proyek tersebut dianggap tidak mendesak di masa pandemi dan diduga melanggar sejumlah prosedur pengadaan pemerintah.

 

Para pengkritik menilai pembelaan atas nama “transformasi pendidikan” tidak dapat menghapus tanggung jawab hukum jika memang terbukti ada penyimpangan.

 

Fakta bahwa Chromebook disebut tetap dipilih meskipun uji coba sebelumnya menunjukkan keterbatasan perangkat di wilayah minim internet menjadi salah satu poin yang paling banyak dipersoalkan.

 

Kejaksaan juga menuding adanya hubungan kepentingan antara kebijakan pengadaan dan investasi Google ke ekosistem GoTo, perusahaan yang lahir dari Gojek startup yang didirikan Nadiem sebelum masuk kabinet. Bagi kelompok yang mendukung proses hukum, kasus ini justru dianggap sebagai ujian penting: apakah tokoh populer dan berpengaruh tetap bisa diproses secara setara di depan hukum.

 

Ruang Sidang yang Sarat Simbol

 

Persidangan Nadiem juga dipenuhi momen emosional yang menjadi perhatian publik.

 

Usai sidang tuntutan, Nadiem tampak memeluk dan mencium orang tua serta istrinya di ruang sidang. Adegan tersebut viral dan memunculkan simpati sekaligus kritik dari masyarakat.

 

Sementara itu, pengadilan juga mengabulkan perubahan status penahanannya menjadi tahanan rumah dengan pengawasan gelang elektronik karena alasan kesehatan pascaoperasi.

 

Bagi pendukungnya, keputusan itu menunjukkan sisi kemanusiaan pengadilan. Namun bagi pihak yang kontra, perlakuan tersebut dianggap berbeda dibandingkan banyak terdakwa korupsi lainnya.

 

Menunggu Putusan yang Akan Menjadi Preseden

 

Kasus ini kini berkembang melampaui sekadar perkara pengadaan laptop. Ia menjadi simbol benturan antara idealisme transformasi digital, kepentingan bisnis teknologi, dan tuntutan akuntabilitas publik.

 

 Vonis akhir terhadap Nadiem diperkirakan akan menjadi salah satu putusan paling menentukan dalam sejarah penegakan hukum korupsi sektor pendidikan Indonesia modern.

 

Apakah publik akan melihatnya sebagai reformis yang tersandung sistem, atau pejabat yang gagal menjaga integritas kebijakan negara?

 

Jawabannya kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh ruang sidang, tetapi juga oleh bagaimana sejarah kelak membaca era digitalisasi pendidikan Indonesia. JIM+AI

Ruang Tengah Politik